Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Seleksi Penulisan Puisi
AfiqaStore
Menjelang Bulan Bahasa, saya dapat tugas menyeleksi anak-anak dalam lomba penulisan puisi naratif. Nanti akan ada tayangan (visual) yang kemudian anak-anak harus membuat puisi tentang tema yang terkandung dalam tayangan tadi dalam waktu 60 menit. Tentu saja diksi dan kesesuaian tema menjadi kriteria. Termasuk juga penggunaan gaya bahasa (majas) tak luput dari penilaian tim juri nantinya.
Ternyata anak Espara keren-keren puisinya. Ini saya tampilkan beberapa hasil karya mereka :
Janji Senja Kita
by : Yuniska
Tertunduk aku
Di atas batu berdebu
Desir angin menemaniku
Saat aku diam termangu
Membawa lamunan jauh ke dasar sukmaku
Ingatkah kau, kawan !
Dulu kita pernah berjanji
Di bawah pohon cemara pagi
Di atas keelokan daun semanggi
Sunyi sekali
Ingatkah kau, kawan!
Saat kau mengajakku pacaran
Aku mulai kebingungan
Tercengang, kaku, mencari jawaban
Pikiranku berkeliaran
Hatiku tak karuan
Aku pikir, kawan!
Buat apa kita pacaran
Kita tak punya modal jajan
Aku pikir, kawan!
Untuk apa kita pacaran
Jika dosa kita cemarkan
Lebih baik kita berteman
Dalam rengkuhan persahabatan
Dengan hidup penuh jabat tangan
Tanpa saling bermusuhan
Tanpa ada kecemburuan
Janjimu, janjiku
Akan selalu mengeras di peraba suaraku
Bahwa kita akan bersama selalu
Hingga selaput jala matamu
Mengabur dalam senjaku
Ibu
by : Ratih Ulfa Istikomah
Kala fajar tiba
Kala mentari menyapa
Kau tlah bekerja
Tak pernah mengeluh
Walaupun ku tau kan lelah
Kau tetap tegar hadapi segala masalah
Senakal apapun kelakuanku
Seburuk apapun sikapku
Dengan sabarnya kau belai aku
Menasihatiku
Dengan kelembutan hatimu
Kau ajari aku banyak hal
Kau cucurkan keringatmu
Kau curahkan pikiranmu
Hanya demi aku
Demi masa depanku
Tak peduli badai menerpa
Tak peduli adanya nestapa
Kau tetap berusaha
Berusaha bantu wujudkan cita-cita
Ibu...
Dalam setiap doaku
Ku slalu menyebut namamu
Berharap Tuhan membalas kebaikanmu
Berharap Tuhan beri yang terbaik untukmu
Berharap Tuhan beri surga-Nya untukmu
Ternyata anak Espara keren-keren puisinya. Ini saya tampilkan beberapa hasil karya mereka :
Janji Senja Kita
by : Yuniska
Tertunduk aku
Di atas batu berdebu
Desir angin menemaniku
Saat aku diam termangu
Membawa lamunan jauh ke dasar sukmaku
Ingatkah kau, kawan !
Dulu kita pernah berjanji
Di bawah pohon cemara pagi
Di atas keelokan daun semanggi
Sunyi sekali
Ingatkah kau, kawan!
Saat kau mengajakku pacaran
Aku mulai kebingungan
Tercengang, kaku, mencari jawaban
Pikiranku berkeliaran
Hatiku tak karuan
Aku pikir, kawan!
Buat apa kita pacaran
Kita tak punya modal jajan
Aku pikir, kawan!
Untuk apa kita pacaran
Jika dosa kita cemarkan
Lebih baik kita berteman
Dalam rengkuhan persahabatan
Dengan hidup penuh jabat tangan
Tanpa saling bermusuhan
Tanpa ada kecemburuan
Janjimu, janjiku
Akan selalu mengeras di peraba suaraku
Bahwa kita akan bersama selalu
Hingga selaput jala matamu
Mengabur dalam senjaku
Ibu
by : Ratih Ulfa Istikomah
Kala fajar tiba
Kala mentari menyapa
Kau tlah bekerja
Tak pernah mengeluh
Walaupun ku tau kan lelah
Kau tetap tegar hadapi segala masalah
Senakal apapun kelakuanku
Seburuk apapun sikapku
Dengan sabarnya kau belai aku
Menasihatiku
Dengan kelembutan hatimu
Kau ajari aku banyak hal
Kau cucurkan keringatmu
Kau curahkan pikiranmu
Hanya demi aku
Demi masa depanku
Tak peduli badai menerpa
Tak peduli adanya nestapa
Kau tetap berusaha
Berusaha bantu wujudkan cita-cita
Ibu...
Dalam setiap doaku
Ku slalu menyebut namamu
Berharap Tuhan membalas kebaikanmu
Berharap Tuhan beri yang terbaik untukmu
Berharap Tuhan beri surga-Nya untukmu
Neraca Berat Sebelah
AfiqaStore
Sebelum amar putusan dibaca
Sebelum palu godam dihantam
Masih ada peluang tersisa
Sebelum kering mulut bisa dibungkam
Bingung barmain anak timbangan
Kau pindah kiri kanan
Saran beban dakwaan
Bertukar amplop keringanan
Inilah negeriku
Dikuasai para pemburu
Mangsa lemah ditendang ditinju
Pemenang licik berselendang biru
Kau takkan bs berdiri tegak
Tongkatmu rapuh penyangga tubuh
Hukum dibeli hukum terdesak
Keadilan mati suri semenjak subuh
Neraca tak lagi imbang
Anak timbangan berkurang
Amar putusan dari hakim bimbang
Vonis ringan segera pulang
Mengkah cepat dibalik pintu hilang
Tersenyum hambar menghitung uang
Senja di Espara
AfiqaStore
Surya beranjak pulang
penat seharian bercahaya
merindu belaian petang
tempat sembunyi terpercaya
Senja menyambut ramah
anak Espara setia di papan ketikan
kadang lupa alamat rumah
khusuk membalas obrolan teman
dunia di genggaman
saat berlayar demikian mudah
berpindah dari satu ke lain laman
melihat posting dan twit indah
semoga kendali tetaplah iman
sebab teknlogi cuma pengantar
raih kehidupan lebih bermakna
dengan ilmu dan agama
baru kan kau dapati betapa bahagia
orang yang tinggi ilmu takut pada-Nya
penat seharian bercahaya
merindu belaian petang
tempat sembunyi terpercaya
Senja menyambut ramah
anak Espara setia di papan ketikan
kadang lupa alamat rumah
khusuk membalas obrolan teman
dunia di genggaman
saat berlayar demikian mudah
berpindah dari satu ke lain laman
melihat posting dan twit indah
semoga kendali tetaplah iman
sebab teknlogi cuma pengantar
raih kehidupan lebih bermakna
dengan ilmu dan agama
baru kan kau dapati betapa bahagia
orang yang tinggi ilmu takut pada-Nya
Meledak
AfiqaStore
Diam tak berarti damai
Kotaku di mingu pagi mendadak ramai
Ledakan keras memenuhi langit
Semburat lari menjerit
Sirine mengaung
Korban tumbang bermandi darah
Tubuh hancur kesegala arah
Dan bangunanpun menjadi puing
Siapa tak belajar dr pengalaman takkan pernah pintar
Segepok jutaan membuatnya nanar
Bermain api menggoreng bahan petasan
Menantang maut dengan kepongahan
Dikira seragam dengan kilau lencana
Dapat membungkam mulut warga
Tersenyum membayangkan hasil jualan
Barang belum laku berganti kehinaan
Lalu salah siapa
Bila nafsu menjadi raja
Tak berlaku hukum pidana
Tak mempan lagi borgol penjara
Kotaku di mingu pagi mendadak ramai
Ledakan keras memenuhi langit
Semburat lari menjerit
Sirine mengaung
Korban tumbang bermandi darah
Tubuh hancur kesegala arah
Dan bangunanpun menjadi puing
Siapa tak belajar dr pengalaman takkan pernah pintar
Segepok jutaan membuatnya nanar
Bermain api menggoreng bahan petasan
Menantang maut dengan kepongahan
Dikira seragam dengan kilau lencana
Dapat membungkam mulut warga
Tersenyum membayangkan hasil jualan
Barang belum laku berganti kehinaan
Lalu salah siapa
Bila nafsu menjadi raja
Tak berlaku hukum pidana
Tak mempan lagi borgol penjara
Pemangsa
AfiqaStore
Sembunyi di kelam malam
Menghindar sinar bulan
Mengendap pelan
Menunggu mangsa,diam
Tepat mangsa tertawa
Sambar sekilat membelit raga
Remuk tulang sesak dada
Mati pelahan melotot mata
Ini saat pesta pora
Tamak tak bersisa
Pelan menelan mangsa
Sabar otot tubuh terbiasa
Mangsa bulat di perutnya
Kini, senyumnya lepas
Lapar menahun terbayar tuntas
Mangsa terurai pelahan kandas
Tubuh tak bergerak,malas
Cukup beberapa bulan
Tidur panjang seharian
Begitulah rantai makanan
Peristiwa makan-memakan
Itulah hewan
Untunglah kita ini insan
Lengah dari Hujan Semalam
AfiqaStore
Biar senja bermukim di hatimu
Lengah dari hujan semalam, kau merasa tenang
Menutup lembaran hari dengan senyuman
Seolah menang
Kau tantang malam
Pekat dalam bayang hilang
Kiramu genggam kemenangan
Padahal sampah berserakan
Begitu lalu semua tuju
Lewati batas tak mau tahu
Tak bisa membendung deru gagahmu
Puisi tak mampu mencegahmu
Setiap laku punya waktu
Begitu pula hadirmu
Tepat membungkam mulut lebar
Dengan janji berkobar-kobar
Kini bayang aslimu menganga
Jiwa-jiwa kerdil merana
di sudut gang jiwa besar menerjang badai
tangan ringan membawa nasi bungkusan
tak malu menyentuh lumpur
tersungging senyum derita terkubur
letihmu daya semangat tak henti
ikhlasmu membumbung tinggi
tim penyelamat, regu penolong dan para dermawan,
adalah jiwa besar yang memberi harapan
bahwa derita satukan persaudaraan
Luruh
AfiqaStore
Raih Dia
AfiqaStore
bermandi cahaya
kotamu kian jelita
deru mesin tak seberapa
kalah bising gelak canda tetangga
kau lupa disini awalmu air mata
merekah senyum bundamu bahagia
teriakmu sehat,tangismu kuat
lalu waktu mengantarmu dewasa
kini kau datang
menggenggam masa depan
kotamu belum berubah
tiap sudut menyambutmu ramah
sejenak kau tenggelam
ingatan masa lalu timbul tenggelam
menyengat bau dedaunan
memperjelas masa silam
gadis manis bertelanjang kaki
berlari menyusuri bukit
setia menunggu di persimpangan
tempatmu berjanji tuk kembali pulang
raih dia
kejar cintamu
karena emas yg kau bawa
takkan berarti tanpa wanita
Langganan:
Postingan (Atom)







